Resume Peristiwa Tsunami Akibat Gempa Simeulue 11 April 2012

Oleh Tim Konsorsium Peneliti Tsunami TDMRC Universitas Syiah Kuala-Badan Pengkajian dan Penerapa Teknologi (BPPT)-Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan PT. ASR

1. Kejadian Gempa

Gempa besar terjadi dimulai dengan gempa berskala 8.5 Skala Richter (SR) yang berpusat di sebelah Barat Pulau Simeulue pada kedalaman 10 Km pada pukul 15.38 WIB tanggal 11 April 2012. Lokasi gempa dapat dilihat pada Gambar 1. Gempa tersebut dilaporkan dirasakan oleh warga Aceh sekitar 5 menit. Gempa juga dirasakan oleh warga di Kota Medan dan beberapa kota lainnya di Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Sekitar 2 jam berikutnya gempa dengan kekuatan 8,2 SR juga terjadi dekat dengan lokasi sebelumnya.

Gambar 1. Lokasi Gempa berskala 8,5 SR (sumber: BNPB)..

Gambar 1. Lokasi Gempa berskala 8,5 SR (sumber: BNPB)

Gempa 8.5 SR memicu gempa-gempa lain di sekitar episenter sebelumnya dari skala 4 hingga skala 8,2 SR atau yang dikenal aftershocks earthquake. Lokasinya adalah seperti pada Gambar 2. Gempa 12 April 2012 sangat berbeda dengan gempa 26 Desember 2004 karena tidak terjadi di zona subduksi, melainkan di sesar geser yang berada di lempeng Indo-Australia. Sesar geser di lempeng Indo-Australia dikenal dengan Investigator Fracture Zone (IFZ) di sebelah timur dan Ninety East Ridge (NER) di sebelah barat. IFZ dan NER ini sudah lama tidak aktif,namun gempa besar 26 Desember 2004 diduga telah menyebabkan IFZ dan NER aktif kembali. Selain itu, kejadian gempa di IFZ dan NER ini pernah terjadi pada tanggal 19 April 2006, 4 Oktober 2007, dan 11 Januari 2012.

Gambar 2. Gempa-gempa aftershocks dari tanggal 11-12 April 2012

Gambar 2. Gempa-gempa aftershocks dari tanggal 11-12 April 2012

2. Pemodelan Tsunami
Untuk melihat dampak atas gempa tersebut terhadap proses penjalaran gelombang tsunami ke wilayah daratan sumatera dan sekitarnya, maka Tim Peneliti Tsunami TDMRC dan konsorsium Peneliti tsunami TDMRC melakukan serangkaian simulasi dengan menggunakan piranti lunak TUNAMI N3 yang bersumber dari University Tohoku di Jepang dan COMCOT versi 1.7 yang diproduksi oleh Universitas Cornell di Amerika Serikat. Simulasi Tsunami ini diperlukan mengingat keterbatasan jumlah alat pemantau elevasi muka air laut yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, simulasi ini diperlukan untuk melihat sejauh mana tsunami berpotensi menjalar ke wilayah-wilayah sekitarnya. Kedua piranti lunak tersebut merupakan piranti lunak yang terdepan di dunia keilmuwan tsunami saat ini. Ada 13 skenario tsunami dijalankan oleh para peneliti untuk melihat dampak mana yang lebih mendekati keadaan sesungguhnya.

2.1. Hasil Permodelan Menggunakan Software TUNAMI N3
Arah patahan bersumbu pada diagonal sumbu Timur Laut-Barat Daya sebagaimana pada Gambar 3. Panjang bidang focal gempa tersebut diperkirakan memiliki panjang 600-700 Km. Arah ini memotong garis subduksi Indo-Australia ke dasar lempeng. Gempa besar seperti ini yang berada di luar zona subduksi merupakan gempa yang sangat jarang terjadi di dunia. Oleh karena itu, ini merupakan fenomena tersendiri dan sekali lagi membuktikan bahwa masih cukup banyak hal yang tidak diketahui di zona ini sekalipun telah pernah terjadi peristiwa tahun 2004 dan banyak penelitian yang sudah pernah dilakukan.

Gambar 3.  Hasil Simulasi Tsunami menggunakan Model TUNAMI-N3 overlay dengan google earth

Gambar 3. Hasil Simulasi Tsunami menggunakan Model TUNAMI-N3 overlay dengan google earth

Tsunami kecil terjadi di sekitar wilayah bayangan seperti terlihat pada Gambar 1. Namun tidak sebesar tsunami tahun 2004 karena pola gempa yang bukan sesar naik namun gempa karena sesar geser sehingga gempa seperti ini tidak memindahkan massa air yang cukup besar secara vertikal ke atas permukaan. Namun, gesekan horizontal dasar laut ditambah dengan getaran yang dihasilkan oleh gempa mengganggu massa air dalam arah horizontal sehingga tetap menghasilkan tsunami kecil ke wilayah-wilayah tersebut

Ketinggian maximum tsunami adalah 3.5 m. daerah yang terkena dampak tsunami diantaranya Pulau Mentawai dengan keitinggian tsunami ± 1.5 , Nias (3.5m), Simuelu (1 m), Meulaboh (0.8 sampai dengan 1 m) dan untuk Banda Aceh setinggi lebih kecil dari 0.5 m. Tim menduga bahwa terjadi tsunami dalam skala yang relatif lebih tinggi dari 1 meter di Pulau-pulau kecil yang berada di antara Pulau Nias dan Kepulauan Mentawai, terutama di Pulau Simuk yang terletak di Selatan Pulau Nias. Tsunami tersebut diperkirakan tidak berdampak besar bagi kota-kota di belakang Pulau-pulau kecil tersebut karena telah diredam oleh keberadaan pulau-pulau tersebut.

2.2. Hasil Pemodelan Tsunami Menggunakan Model COMCOT
Sebagai perbandingan terhadap simulasi penjalaran tsunami dengan model TUNAMI N3, maka hasil simulasi tsunami dengan menggunakan COMCOT 1.7 dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5. Arah penjalaran tersebut memperlihatkan bahwa tsunami kecil memang terjadi di bagian utara dari sumber gempa seperti kota Meulaboh, Calang, Banda Aceh, dan Sabang.

Gambar 5: Simulasi Penjalaran Tsunami

Gambar 5: Simulasi Penjalaran Tsunami setelah 3 jam dan 4 Jam

Untuk mengkonfirmasi kejadian tsunami tersebut, maka dapat dilihat dari pemantauan muka air dari Tsunami Buoy (DART) yang dikelola oleh NOAA. Ada dua stasiun yang aktif pada saat tersebut yang mengukur muka air per-15 detik, yaitu stasiun A (Sta No. 23401) dan Stasiun B (Sta No. 23227) yang masing-masing diberi nama Phuket dan Bengal. Lokasi Buoy Tsunami tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Data mentah dari muka air yang masih belum difilter dari data pasang surutnya dapat dilihat di Gambar 7. Sedangkan Gambar 8 memperlihatkan elevasi muka air di Stasiun B yang telah difilter (dikurangi) data muka air pasang surut. Terlihat jelas bahwa muka air terganggu akibat penjalaran gelombang tsunami kecil di kedua titik tersebut. Data tersebut memperlihatkan bahwa tsunami mencapai kedua titik tersebut sekitar 1 jam setelah kejadian gempa.

Gambar 6. Lokasi Buoy Tsunami (DART Buoy NOAA)

Gambar 6. Lokasi Buoy Tsunami (DART Buoy NOAA)

Gambar 7. Data Elevasi Muka Air Yang masih bercampur dengan data Pasang Surut(Disadur oleh Tim Peneliti TDMRC dari data Buoy NOAA)

Gambar 7. Data Elevasi Muka Air Yang masih bercampur dengan data Pasang Surut(Disadur oleh Tim Peneliti TDMRC dari data Buoy NOAA)

Gambar 8. Analisis FFT dari Kondisi Muka Air pada Buoy A (Phuket)(Sumber: Hasil Analisis Tim Peneliti Tsunami TDMRC)

Gambar 8. Analisis FFT dari Kondisi Muka Air pada Buoy A (Phuket)(Sumber: Hasil Analisis Tim Peneliti Tsunami TDMRC)

3. Rekomendasi

  • Disarankan untuk dilakukan survey yang mendalam terhadap dampak gempa dan tsunami terutama terhadap pulau-pulau kecil yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera. Validasi melalui pengukuran dampak terhadap pulau-pulau tersebut penting dilakukan untuk memastikan bagaimana mekanisme penjalaran gelombang tersebut.
  • Perlu adanya penelitian mendalam untuk memastikan mekanisme yang telah terjadi dan potensi kejadian di masa yang akan datang. Gempa tanggal 11 April 2012 tersebut tidak menghasilkan tsunami besar sebagaimana gempa di tahun 2004 karena mekanisme focal dari sumber gempa tidak sama. Kejadian gempa besar di luar zona subduksi seperti ini merupakan kejadian yang langka. Kejadian gempa ini berpotensi menambah energi pada lempeng yang berdekatan termasuk di dalamnya menambah potensi kejadian gempa-tsunami di sepanjang subduksi Indo-Australia dari Aceh hingga Selatan Pulau Jawa.
  • Selaras dengan rekomendasi nomor 2, maka perlu penguatan laboratorium tsunami di Aceh sebagai lokasi riset tsunami dunia yang menyimpan berbagai peristiwa unik dan penting untuk pembelajaran bagi Indonesia dan dunia.
  • Perlu peningkatan kewaspadaan masyarakat Aceh terhadap potensi tsunami di sekitar pantai barat-selatan Aceh. Kewaspadaan tersebut perlu juga diikuti dengan perbaikan infrastruktur evakuasi tsunami terutama jalan-jalan evakuasi, sistem peringatan dini (sirine), dan bangunan-bangunan evakuasi yang memadai.

Disusun oleh Konsorsium Peneliti Tsunami TDMRC Unsyiah-BPPT-KKP-PT ASR:
1. Dr. Gegar Prasetya
2. Dr. Widjokongko
3. Dr. Semeidi Husrin
4. Dr. Eldina Fatimah
5. Dr. Eng. Syamsidik
6. Bustamam, MWRM
7. Yudha Nurdin, MT
8. Ibrahim, MT
9. Teuku Mahlil, ST
10. Fauziah, ST
11. Arizal, ST
12. Teuku M. Rasyif
13. Ibnu Rusydy, M.Sc

Note:
1. IFZ; merupakan struktur “transform ridges” yang berarah Barat laut – Tenggara (North North West-South South East atau NNW-SSE) di dalam lempeng Samudra.
2. NER; merupakan punggungan gunung di dasar laut di lempeng samudra. Karena letaknya pas di garis bujur 90o sehingga dinamakan ninety east ridge.
Versi PDF dari Press Release ini dapat di download disini
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi koordinator Tim
Dr. Eng. Syamsidik
HP: 081381134665
Email: syamsidik@tdmrc.org